Tanpa terasa ini sudah 40 hari sejak kepergian adik kecil kami tercinta, ananda Nadya Nurhaliza Fetaya. Kenyataan bahwa kami telah kehilangan dirinya. Kabar memilukan tentang kecelakaan dirinya pada 5 Mei 2011 lalu masih tidak bisa hilang dari ingatanku. Ia yang paling muda di antara kami ternyata harus meregang nyawa terlebih dahulu. Begitu cepat di usianya yang masih 9 tahun itu, rasanya sungguh berat. Hingga kini pun bila mengenang kepergiannya yang begitu mengejutkan kami semua, benar2 sulit untuk di percaya.
Kenangan indah masa lalu bersamanya meninggalkan kesan istimewa tersendiri di hati kami maupun di hati setiap orang yang mengenalnya, menyeruak terus dalam benak kami sejak kematiannya. Karakternya yang menyenangkan membuat ia bisa dengan cepat mengakrabkan diri dengan setiap orang yang di jumpainya. Bila teringat cerita akan tingkahnya yang lucu dan polos kami tertawa lepas menanggapinya. Senyum cerianya yang menggemaskan, senyum dan tawa yang tulus terpancar dari aura wajahnya yang membuat hati kami menjadi terhibur akan kehadirannya yang menebarkan keceriaan.
Bila teringat parasnya yang cantik jelita, tak ada habisnya diri ini memuji ciptaan Sang Maha Kuasa. Paras yang dengan memandangnya membuat hati terasa damai, sejuk dan tentram.
Ia memang masih anak kecil, tetapi ia bisa bersikap layaknya orang dewasa, walaupun kami di pisahkan oleh jarak yang jauh dan adik kami tercinta hanya tinggal ber-2 bersama mama tersayang, ia bisa mengerti keadaan tersebut dengan tetap berusaha ceria dan tidak mengeluh. Ia lah yang menguatkan dan menghibur mama di kala kesepian. Di sisi inilah yang mengagumkan dari diri nya yang membuat kami takjub dan bangga terhadap dirinya.
Adikku, engkau telah mendahului kami, kakak-kakak mu. Senyuman yang selalu mengembang pada bibirmu tidak akan pernah dapat kami lupakan. Kupajang fotomu di HP untuk mengenang masa-masa indah bersamamu. Sungguh kami tak mengira bila usia yang diberikan oleh Allah padamu ternyata lebih singkat daripada kami. Kegigihan usahamu dalam meniti beratnya dunia akan aku panutkan dalam diriku. Semangat juangmu sungguh tak tertandingi meski hal itu tak bisa terwujudkan seluruhnya karena Allah lebih menyanyangimu untuk berada di sisi-Nya daripada berada dalam pelukan kami.
Dalam banyak aktivitas dan kesempatan, kuupayakan untuk bisa kembali tertawa lepas sebagaimana biasanya. Meski berat, kucoba untuk merajut kembali kenyataan ini.
Sekali lagi, kuucapkan selamat jalan padamu wahai adikku tersayang. Susah rasanya bagi kami untuk sejenak saja melupakanmu. Engkau akan selalu berada di hati kami tuk mengiringi perjalanan hidup kami di dunia ini hingga ajal kelak menjelang.
We Love You ♥ Nadya Nurhaliza Fetaya,

